CERPEN
MAAFKAN
AKU INDRI
DALAM
PERANTAUAN AKU HAMPIR TAK SETIA
Selepas masa-masa SMA
aku melanjutkan pendidikan di universitas swasta yang ada di provinsiku. Aku
tinggalkan segala yang ada pada kampung halamanku. Aku tinggalkan orangtuaku
yang aku hormati, adik-adikku yang aku sayangi dan kekasihku yang sangat aku
sayangi.
Indriani..
Ya, itulah nama kekasih yang sangat aku sayangi yang ada di kampung halamanku,
rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku, tepat berada di depan rumah kami
yang sederhana. Kami memang bertetangga, aku mengenal Indri sejak kami masih
kecil, sejak aku TK aku sudah mengenalnya.
Aku
mengenal baik Indri sejak kecil. Masa-masa kecil kami begitu indah untuk
dibayangkan. Kami bercanda gurau sejak kecil, bermain bersama, dan pada waktu aku
kelas dua SMA kami menjalin kasih. Kami resmi berpacaran sejak saat itu. Kami
sering senyum-senyum sendiri membayangkan masa kecil kami,lucu jika
dibayangkan. Terkadang aku ikut kegiatan bermainnya, masak-masak bersama, main
karet. Terkadang dia juga bermain bersamaku, main kelereng, mencari ikan di
sungai, dan memetik buah rambutan tetangga. Perbuatan yang kurang terpuji, kami
ambil rambutan tetangga tanpa izin empunya terlebih dahulu.
Mungkin
cerita-cerita indah bersama pada waktu kecil bisa menjadi bahan cerita pada
anak-anak kami kelak jika telah berkeluarga nantinya. Aku ingin Indri menjadi ibu yang baik bagi
anak-anakku kelak. Aku juga tak menyangka jalan hidupku begitu indah seperti
ini. Sejak kecil kami bermain bersama, berpacaran, dan mudah-mudahan kami besok
memang ditakdirkan untuk bisa merawat anak-anak kami bersama.
Indri
adalah adik kelasku, saat aku lulus SMA dia masih berada di kelas dua SMA.
Kebahagiaan kami sedikit terenggut saat itu. Aku meneruskan pendidikan di
universitas swasta yang ada di ibu kota kami, jadi kami harus terpisah.
Terpisah dengan kekasih terasa berat untukku, tetapi demi masa depanku aku
tenggalkan kekasih yang sangat aku cintai.
Saat
berada di bangku kuliah, aku jalani hari-hariku yang berat ini. Terpisah dari
keluarga, kekasih, masak sendiri dan apa-apa serba sendiri. Hanya teman kosku
yang menemani hari-hariku saat ini.
Pada
suatu ketika, saat aku kuliah aku melihat wanita yang sedang berjalan sendirian
pada siang hari yang terik. Karena aku merasa kasian, aku menawarkan boncengan
untuknya.
“mau kemana dik?”
“mau pulang bang”
“tinggalnya dimana?”
“di gang amanah bang”
“owh, ayo lah kita pulang bareng, kebetulan saya
juga lewat gang amanah”
“makasih bang, tp saya mau jalan aja, dekat kok
bang”
“ayo lah, agak jauh gang itu, panas-panas begini
pun”
“gak ngrepotin nih bang?”
“gak kok, kan saya nglewati gang itu juga”
Sambil senyum kemudian
gadis itu duduk di boncengan motorku. Dalam perjalanan kami saling berkenalan,
dan ngobrol bersama. Ternyata dia juga seorang mahasiswa,tetapi berbeda
denganku, ia jurusan biologi di FKIP, sementara aku jurusan bahasa Indonesia,
kami satu angkatan dan berada di universitas yang sama. Nama gadis itu Mio.
Setelah sampai di depan
rumahnya lalu ia turun, kami bertukaran nomor HP di sana. Melalui HP akhirnya
kami sering berkomunikasi. Saling sapa, menanyakan keadaan, dan hubungan kami
akhirnya semakin dekat. Kami sering menghabiskan malam bersama di kota ini.
Kami sering pergi menikmati malam bersama setelah shalat isya hingga jam
Sembilan malam.
Lama-lama timbul
perasaan dalam hatiku, aku merasa ada kecocokan dengannya. Kebaikannya,
perhatiannya dan kecantikannya sukses menghipnotisku. Aku jatuh cinta pada Mio,
rasanya ada yang kurang jika dalam satu hari saja tidak mengetahui kabarnya.
Timbul juga niatku
untuk menjadikan Mio sebagai kekasihku. Di kota ini aku merasa kesepian, sudah
lama aku tidak berjumpa dengan Indri kekasihku yang ada di kampung. Sebagai
lelaki yang normal, tentu saja memiliki keinginan untuk dekat dengan lawan
jenis. Ingin ada yang perhatian, memberi semangat, dan membantu. Sementara Indri
kekasihku yang di kampung serasa telah jauh dariku, aku jarang mendapatkan
perhatiannya.
Untuk itulah aku
berkeinginan menjadiakan Mio kekasihku. Aku ingin mendapatkan perhatian di
sini, aku ingin ada wanita yang menemani hari-hariku di sini.
Akhir bulan, aku
kembali mengunjungi orangtuaku di kampung. Aku menerima kabar dari Indri jika
ibuku sedang sakit keras, dan sekarang sedang di rawat di RSUD pasir
pangaraian. Selepas dari rumah, aku langsung menjenguk ibuku yang sedang
terbaring lemah di rumah sakit itu. Di sana telah ada Indri yang setia menemani
ibuku di rumah sakit.
Pada waktu itu hujan
turun begitu derasnya, aku basah kuyup kedinginan. Indri begitu perhatian denganku.
Saat aku kedinginan, ia mencari minuman jahe untukku agar aku tidak kedinginan
lagi. Aku rasakan begitu perhatiannya Indri terhadapku. Ia telah rela
mengorbankan waktunya untuk keluargaku, tanpa disuruh ia juga yang mencarikan
minuman jahe untukku pada waktu aku kedinginan.
Batinku begitu
tersentuh olehnya. Betapa baik dan perhatiannya ia terhadapku. Kurang apa dia,
hingga aku hampir tega menduakannya dengan memiliki kekasih baru yang bernama
Mio itu. Indri juga tidak kalah canti kok dengan Mio. Mungkin aku akan menjadi
lelaki yang paling jahat di dunia jika sampai menduakannya.
Pada saat itu juga
datang SMS dari Mio. “sayang, gimana kabar ibu kamu? Sudah sehat?”.
"SMS dari siapa mas?" tanya Indri
"owh, ini cuman dari teman kuliah aja kok dik." jawabku
Tak bisa kupungkiri aku
masih sayang juga dengan Mio, tapi bagaimana dengan nasib Indri, tentu ia akan
sakit jika diduakan. Aku tidak pernah ingin untuk menyakiti wanita.
Dengan tegas kupegang
HPku, aku cari nama kontak yang bernama Mio. Dengan agak berat hati aku tekan
tombol remove.