Sabtu, 24 Desember 2011



CERPEN

MAAFKAN AKU INDRI
DALAM PERANTAUAN AKU HAMPIR TAK SETIA

Selepas masa-masa SMA aku melanjutkan pendidikan di universitas swasta yang ada di provinsiku. Aku tinggalkan segala yang ada pada kampung halamanku. Aku tinggalkan orangtuaku yang aku hormati, adik-adikku yang aku sayangi dan kekasihku yang sangat aku sayangi.
            Indriani.. Ya, itulah nama kekasih yang sangat aku sayangi yang ada di kampung halamanku, rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalku, tepat berada di depan rumah kami yang sederhana. Kami memang bertetangga, aku mengenal Indri sejak kami masih kecil, sejak aku TK aku sudah mengenalnya.
            Aku mengenal baik Indri sejak kecil. Masa-masa kecil kami begitu indah untuk dibayangkan. Kami bercanda gurau sejak kecil, bermain bersama, dan pada waktu aku kelas dua SMA kami menjalin kasih. Kami resmi berpacaran sejak saat itu. Kami sering senyum-senyum sendiri membayangkan masa kecil kami,lucu jika dibayangkan. Terkadang aku ikut kegiatan bermainnya, masak-masak bersama, main karet. Terkadang dia juga bermain bersamaku, main kelereng, mencari ikan di sungai, dan memetik buah rambutan tetangga. Perbuatan yang kurang terpuji, kami ambil rambutan tetangga tanpa izin empunya terlebih dahulu.
            Mungkin cerita-cerita indah bersama pada waktu kecil bisa menjadi bahan cerita pada anak-anak kami kelak jika telah berkeluarga nantinya.  Aku ingin Indri menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Aku juga tak menyangka jalan hidupku begitu indah seperti ini. Sejak kecil kami bermain bersama, berpacaran, dan mudah-mudahan kami besok memang ditakdirkan untuk bisa merawat anak-anak kami bersama.
            Indri adalah adik kelasku, saat aku lulus SMA dia masih berada di kelas dua SMA. Kebahagiaan kami sedikit terenggut saat itu. Aku meneruskan pendidikan di universitas swasta yang ada di ibu kota kami, jadi kami harus terpisah. Terpisah dengan kekasih terasa berat untukku, tetapi demi masa depanku aku tenggalkan kekasih yang sangat aku cintai.
            Saat berada di bangku kuliah, aku jalani hari-hariku yang berat ini. Terpisah dari keluarga, kekasih, masak sendiri dan apa-apa serba sendiri. Hanya teman kosku yang menemani hari-hariku saat ini.
            Pada suatu ketika, saat aku kuliah aku melihat wanita yang sedang berjalan sendirian pada siang hari yang terik. Karena aku merasa kasian, aku menawarkan boncengan untuknya.
“mau kemana dik?”
“mau pulang bang”
“tinggalnya dimana?”
“di gang amanah bang”
“owh, ayo lah kita pulang bareng, kebetulan saya juga lewat gang amanah”
“makasih bang, tp saya mau jalan aja, dekat kok bang”
“ayo lah, agak jauh gang itu, panas-panas begini pun”
“gak ngrepotin nih bang?”
“gak kok, kan saya nglewati gang itu juga”
Sambil senyum kemudian gadis itu duduk di boncengan motorku. Dalam perjalanan kami saling berkenalan, dan ngobrol bersama. Ternyata dia juga seorang mahasiswa,tetapi berbeda denganku, ia jurusan biologi di FKIP, sementara aku jurusan bahasa Indonesia, kami satu angkatan dan berada di universitas yang sama. Nama gadis itu Mio.
Setelah sampai di depan rumahnya lalu ia turun, kami bertukaran nomor HP di sana. Melalui HP akhirnya kami sering berkomunikasi. Saling sapa, menanyakan keadaan, dan hubungan kami akhirnya semakin dekat. Kami sering menghabiskan malam bersama di kota ini. Kami sering pergi menikmati malam bersama setelah shalat isya hingga jam Sembilan malam.
Lama-lama timbul perasaan dalam hatiku, aku merasa ada kecocokan dengannya. Kebaikannya, perhatiannya dan kecantikannya sukses menghipnotisku. Aku jatuh cinta pada Mio, rasanya ada yang kurang jika dalam satu hari saja tidak mengetahui kabarnya.
Timbul juga niatku untuk menjadikan Mio sebagai kekasihku. Di kota ini aku merasa kesepian, sudah lama aku tidak berjumpa dengan Indri kekasihku yang ada di kampung. Sebagai lelaki yang normal, tentu saja memiliki keinginan untuk dekat dengan lawan jenis. Ingin ada yang perhatian, memberi semangat, dan membantu. Sementara Indri kekasihku yang di kampung serasa telah jauh dariku, aku jarang mendapatkan perhatiannya.
Untuk itulah aku berkeinginan menjadiakan Mio kekasihku. Aku ingin mendapatkan perhatian di sini, aku ingin ada wanita yang menemani hari-hariku di sini.
Akhir bulan, aku kembali mengunjungi orangtuaku di kampung. Aku menerima kabar dari Indri jika ibuku sedang sakit keras, dan sekarang sedang di rawat di RSUD pasir pangaraian. Selepas dari rumah, aku langsung menjenguk ibuku yang sedang terbaring lemah di rumah sakit itu. Di sana telah ada Indri yang setia menemani ibuku di rumah sakit.
Pada waktu itu hujan turun begitu derasnya, aku basah kuyup kedinginan. Indri begitu perhatian denganku. Saat aku kedinginan, ia mencari minuman jahe untukku agar aku tidak kedinginan lagi. Aku rasakan begitu perhatiannya Indri terhadapku. Ia telah rela mengorbankan waktunya untuk keluargaku, tanpa disuruh ia juga yang mencarikan minuman jahe untukku pada waktu aku kedinginan.
Batinku begitu tersentuh olehnya. Betapa baik dan perhatiannya ia terhadapku. Kurang apa dia, hingga aku hampir tega menduakannya dengan memiliki kekasih baru yang bernama Mio itu. Indri juga tidak kalah canti kok dengan Mio. Mungkin aku akan menjadi lelaki yang paling jahat di dunia jika sampai menduakannya.
Pada saat itu juga datang SMS dari Mio. “sayang, gimana kabar ibu kamu? Sudah sehat?”. 
"SMS dari siapa mas?" tanya Indri
"owh, ini cuman dari teman kuliah aja kok dik." jawabku
Tak bisa kupungkiri aku masih sayang juga dengan Mio, tapi bagaimana dengan nasib Indri, tentu ia akan sakit jika diduakan. Aku tidak pernah ingin untuk menyakiti wanita.
Dengan tegas kupegang HPku, aku cari nama kontak yang bernama Mio. Dengan agak berat hati aku tekan tombol remove.

0 komentar:

Posting Komentar

Ads 468x60px

Popular Posts

About Me

Foto Saya
ini foto kenangan kami sewaktu studi tour ke taluk kuantan. hmm, benar benar pengalaman yang menyenangkan. hawa di sana terasa sejuk tanpa polusi

Followers

Cari Blog Ini

Featured Posts